Jika
tak meninggalkan barisan kata di layar laptop, tak ‘kan selapang ini kupandangi
wajahmu yang dibingkai rinai hujan yang kian menderas dengan latar keabuan.
Satu hal yang patut kurayakan karena jarang sekali hal-hal yang kusuka bisa
muncul bersamaan seperti ini. Meski sebenarnya kehadiranmu di sini sekaligus
membunuh anganku tentang kebersamaan kita. Siapa yang rela menembus tirai rapat
hujan kecuali karena cinta? Cinta yang peduli.
Kamu
masih di sana, bersandar pada tiang kayu penyangga. Tak seberapa
jauh. Tapi tetap saja tak tergapai. Pandanganmu berpindah-pindah antara jalanan
yang ricuh karena air hujan, layar handphone, dan pintu gedung. Lalu kamu melebarkan
pandangan ke samping, menemukan jalan bagi kita untuk saling menatap. Langkahmu
yang lebar mendekatiku.
“Sore,
Rhima. Kita jemput orang yang sama lagi?”
Tidakkah
kamu ingin menanyakan hal-hal yang lain semisal mengapa aku tidak memakai
sweater dan membiarkan angin membelaiku? Apakah pekerjaanku sudah selesai
sehingga aku bisa membuang waktuku di sini? Sampai mana novel yang sedang
kuterjemahkan?
Sungguh, dunia kita begitu terbatas dan kamu tak
pernah lupa untuk menjejalkannya.
“Ya. Mungkin kita harus bikin jadwal? Supaya
aku tak menggangu kalian,” kataku hampir-hampir terendam suara hujan.
“Mengganggu?
Kita sama-sama punya alasan yang kuat untuk berada di sini. Kita sama-sama
punya cinta.”
Itu
benar, tapi sebelum kamu datang dan menciptakan perasaan yang tak kusangka bisa
kurasa bagi seseorang yang telah menemaniku sepanjang usia: benci. Tidak, tidak,
aku tidak boleh dan tidak patut membencinya. Aku yang patut dibenci karena
telah menumbuhkan rasa ini tanpa pernah berusaha untuk meredamnya. Kubiarkan
saja perasaan itu tumbuh sejak pertemuan pertama kita, di tempat ini. Tapi kali
itu tanpa langit mendung dan rinai hujan. Segalanya terang dan cerah. Dan kali
itu, kamu tak menghampiriku. Ingin kulakukan sesuatu untuk menarik perhatianmu.
Tapi apa? Tiba-tiba kamu bangkit dari jok motor dan berlari kecil ke depan
pintu gedung. Menyambut seseorang layaknya seorang anak menyambut ibunya pulang
dari pasar. Dan di sanalah ia berdiri. Kak Rhida. Orang-orang berkarakter
mungkin sanggup membangun afirmasi bagi situasi seperti itu. Tapi aku tidak.
Otakku langsung saja berspekulasi mengenai hubungan macam apa yang kalian
miliki.
“Tapi
aku sudah dijemput. Lihat, ‘kan?” kudengar Kak Ridha berkata ketika kalian sampai
di depanku.
“Oke, oke…” kamu menarik napas. “Maaf.
Seharusnya aku bilang dulu.”
“Kamu
memang harusnya bilang terlebih dahulu dan tidak seenaknya memaksaku,” ketus
sekali jawaban Kak Ridha. Tapi kamu tetap tersenyum kemudian pamit.
“Sejak
beberapa hari yang lalu, orang itu membuntutiku, Rhim. Di sosial media, di
dunia nyata!”
Aku
tak tahu mesti berkomentar bagaimana. Tapi sebagian hatiku, meski hanya kecil,
merasa lega. Apakah ini celah bagiku? Bahwa Kak Ridha ternyata tak menyukaimu.
“Ia
sepertinya menyukai Kakak.”
“Dia
sudah mempertegas tujuannya sejak awal, Rhim!”
Begitukah?
Apakah sampai kini kamu masih teguh dengan tujuanmu? Tentu saja. Aku tak perlu
meragukan hal itu. Apalagi waktu sepertinya mampu membunuh ketidaksukaan Kak
Ridha padamu.
“Meski
begitu, Rhim. Sepertinya, kamu harus mulai, apa ya istilahnya? Mengurangi
cintamu? Tentu bukan. Kamu hanya harus memercayakan ia padaku.”
Memercayakan Kak Ridha padamu? Jangan
bilang… “Kalian telah membuat sebuah ikatan?”
“Doakan
saja. Perkembangannya cukup baik,” katamu sambil tersenyum. “Kamu tahu? Kakakmu
yang menyuruhku menjemputnya.”
Ba..bagaimana bisa?
“Kamu
terlihat kaget sekali, Rhim. Memang sulit dipercaya menilik sikap kakakmu yang abai
sekali padaku. Yah, semoga ini pertanda yang baik. Hei, kamu merestui kami,
‘kan?”
Bukan,
bukan perubahan sikap Kak Ridha yang membuatku kaget, Nic. Tapi pesan itu.
Tahukah kamu bahwa Kak Ridha pula yang menyuruhku untuk menjemputnya?
*
Dulu,
tiap hujan datang dan membikin ujung rok sekolahku basah, aku selalu
menyalahkanmu. Kamu pasti yang memanggil para rintik merepotkan dan membosankan
itu. Bukankah pada tiap hubungan persahabatan, perjumpaan dengan sahabat layak
dijadikan pinta? Dan, aku tahu hujan adalah sahabatmu. Tak mungkin aku alpa
membaca hal ini bila tiap hujan turun kamu selalu berlari ke teras, jendela,
atau pintu hanya untuk menyambangi para rintik itu.
Itu
dulu. Kini, meski hujan turun dan menyapu lengan kananku, aku tidak akan
meyalahkanmu lagi. Aku berterima kasih, malahan. Kamu berhasil membujuknya
datang dan membebaskan daerah ini dari kekeringan. Ruang sempit dengan cat
kuning kusam tempatku mengikuti pelatihan bahasa inggris dari dinas sosial ini tiba-tiba
menjadi sangat lapang dan nyaman sejak tetes pertama hujan membentur atap seng.
Meski kemudian, mereka menciptakan suara yang gaduh, kurasa, tak ada seorangpun
di sini yang merasa terganggu.
Ah, mengapa segala sesuatunya terasa
berarti setelah ia pergi? Beruntung, hujan mau kembali. Ya, ‘kan, Rhim?
Selain
tahu kalau kamu penyuka hujan, aku juga tahu kamu pengabul sejati. Permintaanku
agar kamu menjemputku pasti kamu penuhi. Tak perlu diragukan, apalagi sedang
turun hujan. Moodmu sedang baik-baiknya bila hujan turun.
Tapi aku tak menemukanmu di sana. Hanya ada
Nic yang berdiri di samping motornya dan melambaikan tangan. Hampir saja ia
hendak menghampiriku di teras dengan payungnya jika aku tidak buru-buru menahannya
dengan mengangkat tanganku.
Kuedarkan
pandangan ke penjuru arah, tapi tetap tak menemukanmu.
“Masih ada yang ketinggalan, Dha?”
Aku
menggeleng pada Nic dengan hati yang bertanya-tanya. Kamu harusnya datang,
apapun yang terjadi. Begitu yang kutahu setelah lima belas tahun ini kita lalui
bersama, tanpa kehadiran ayah dan ibu. Kita tidur beralas ranjang yang sama, berlindung
dari dingin dengan selimut yang sama pula. Sejak tidak mempunyai orang dewasa
yang mengkhawatirkan kita, kita saling mengkhawatirkan bukan? Kita berbagi
duka. Kita saling menyayangi. Iya, ‘kan?
Ada
apa, Rhim? Apa karena Nic? Apa kamu keliru membaca niatku, bahwa yang kuingin
adalah mempertemukanmu padanya? Bukannya membuatmu…cemburu.
Ya
ampun, Rhim, itukah yang kamu pikirkan?
“Hei,
Dha, kenapa diam? Jadi pulang atau mau melamun di sini sampai malam?”
Kutegakkan
kepala dan mendapati wajah Nic yang ramah. Wajah yang mampu membuatmu merona.
“Nic,
maaf. Tapi…” kalimatku tertahan.
“Tapi?”
“Tapi...Aku,
aku tidak bisa menjelaskannya. Bisakah kamu pulang saja? Aku…”
Nic
tersenyum, Rhim. Senyum yang selalu kamu suka, ‘kan?
“Tentu
saja. Aku akan pulang bila itu mau kamu. Tapi, bagaimana kamu pulang? Kamu
nggak mungkin menyuruh Rhima. Baru aja dia pergi.”
“Rhima
ke sini?”
“Iya,
sebentar. Lalu pergi.”
Tidakkah
kamu ingin menciptakan aral bagi hubungan ini, Rhim? Dengan mengagalkan kami
berboncengan?
“Jadi
gimana, Dha? Udah sore lho.”
Perkataan
Nic membuatku bungkam dan makin bingung saja, sedang hujan turun makin deras. Ah,
andai saja kamu datang, semua tak ‘kan sesulit ini. Akan mudah bagiku untuk
membuat alasan untuk Nic. Kalau kalian mencium kesengajaanku ini, bisa saja aku
bilang, “Oh, maaf, Nic. Ternyata aku dobel kirim sms ke kalian.” Dia akan
menerima, pasti. Tidakkah kamu pikir sikap Nic terlalu berlebihan? Aneh?
Tidakkah kamu merasa ada yang beda ketika Nic menatapku, Rhim? Tidak, aku tidak
bermaksud untuk membuatmu cemburu. Tolong, singkirkan semua perasaan itu dan
mulai menggunakan logika. Tidakkan kau juga merasa Nic menatapku seolah aku
adalah malaikat? Seolah aku pernah menyelamatkan hidupnya…
*
Nic, maaf menggangu. Bisa ke Angto
hari ini? Jam delapan.
Kubaca
berulang kali pesan yang kamu kirim lewat Whatsapp,
memastikan bahwa aku tidak salah baca. Bahkan hampir pula kusuruh Dwi untuk
membacanya kalau saja aku tidak terpikir imbas dari perbuatan tersebut.
Diledekin teman-teman kantor sih tidak masalah. Tapi kalau sampai ke tingkat
pertanyaan “Jadi kapan nih undangannya?”, aku belum siap mental. Apalagi
perasaanmu belum bisa kubaca jelas. Meski boleh dibilang usahaku mendekatimu
menunjukkan progress yang baik. Tentu saja, moment dua minggu lalu masih
kuingat jelas: kita berboncengan, menyusuri jalanan licin, pada waktu menjelang
matahari terbenam. Meski (lagi), harus kukatakan, kamu tampak tak nyaman saat
itu. Mungkin kamu hanya belum terbiasa dengan kehadiranku. Karenanya, setelah itu,
kutahan diri kuat-kuat untuk tidak menghubungimu (meski kalau mengubungi,
jarang sekali kamu balas). Kata orang, harus jual mahal. Sesuatu terasa berarti
setelah ia pergi, ‘kan? Ternyata benar. Kini, tak ada angin tak ada hujan, kamu
mengundangku.
Ah,
andai kamu tahu, Dha. Telah hitungan tahun aku mencarimu, menghubungi
orang-orang yang mungkin terlibat peristiwa itu: korban selamat, keluarga
korban, penyelamat, tim pemadam, kepolisian. Kutanyai mereka tentang
keberadaanmu. Menyusulmu ke kota ini bukan perkara yang mudah. Kutinggalkan pekerjaan
dan keluarga demi menuntaskan gelegak perasaan ini. Tahukan kamu apa yang
menuntunku? Wajahmu. Wajamu terus saja melekat dalam ingatanku, meski waktu
berlalu.
Dha,
tentu kamu tidak tahu bahwa sejak lima belas tahun yang lalu, aku jatuh cinta
padamu.
“Kamu
tak keberatan kan, Nic, kusuruh ke sini hanya untuk
mendengarkan ceritaku?” begitu kamu membuka percakapan kita sore ini setelah memesan
minuman. Ah, tidak adakah pembuka yang lebih manis, Dha?
“Tentu saja tidak.”
“Kalau
begitu kumulai. Aku telah menelusuri sebelumnya, karena kurasakan ada yang
salah pada semua ini. Inne yang membantuku mengurai benang ini. Betul Nic, Inne
sepupumu. Kamu
bahkan belum memperkenalkannya padaku, kan? Tapi aku telah mengetahuinya. Aku
telah mengetahui segala tentangmu sampai batas yang bisa diketahui orang lain.
Aku stalking semua akun sosial mediamu, aku bertanya pada
orang-orang. Kamu mungkin pernah membatin atas sikapku yang
cuek selama ini. Tapi sesungguhnya tidak, kan? Aku sesungguhnya
sangat...peduli.”
Benarkah? Jadi selama
ini perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan?
“Inne
bilang bahwa kamu mencari cinta pertama yang hilang. Sewaktu
mendengarnya, aku hampir tertawa, tapi lalu aku melihat buktinya dalam kedua
matamu. Aku tahu, peristiwa lima belas tahun yang lalu kan yang
membawamu kesini? Kamu mencari-cari malaikat kecil itu, kan? Dan
kamu
menemukannya dalam wajahku. Inne bilang, kau selalu mengingat wajah itu. Wajah
ini.”
Kamu mengambil jeda dan
tak kugunakan jeda itu untuk menyahut. Tak ada yang perlu kutambahkan. Semua
benar. Peristiwa yang masih lekat dalam ingatanku itulah yang membawaku ke
sini. Semuanya masih bisa kukecap dengan jelas. Aroma asap yang memenuhi
paru-paruku. Kobaran api di mana-mana, menyudutkanku. Lalu, entah kuketahui
dari mana arahnya, kamu datang. Serupa hujan pertama yang datang bulan ini di
tengah ancaman kekeringan. Kamulah hujanku, kamulah pembawa harapan. Rupamu
masih bisa kuingat jelas, meski kelanjutan dari kisah itu tidak. Kata
orang-orang, aku ditemukan pingsan di taman gedung yang tidak terjamah api,
sendiri. Di mana dirimu waktu itu? Mengapa jejakmu seperti ditelan bumi?
“Inne juga bilang, kamu
tak mungkin melupakan malaikat itu, yang ajaibnya meski baru berusia dua belas
tahun dan lagi seorang gadis tapi bahkan berhasil menyelamatkan nyawamu. Ah, kamu masih tujuh
tahun ya saat itu? Jadi kamu terbang, meraba-raba
jejak malaikat kecil itu di udara yang tak kasat mata. Lalu kamu
berhenti dihadapanku, bernapas dengan lega bahwa pungkas sudah pencarian itu.
Adakah yang salah dari ceritaku, Nic?”
“Tidak, Dha. Semuanya benar. Tapi itu bukan berarti rasa sukaku semata karena balas
budi atas pertolonganmu sewaktu
malam kebakaran itu. Aku telah jatuh cinta pada sosok itu, sejak
lima belas tahun yang lalu. Aku cinta padamu, Dha, sampai saat ini.
Aku sungguh-sungguh.”
Jeda yang lama. Kupikir
kamu akan menyahut, tapi tidak. Pandanganmu menelisikku dengan ganjal, seolah
aku gagal memahami sesuatu.Ah, apa pernyataanku terlalu terburu-buru? Tidak
romantis? Kurang ajar? Ayolah, Dha, katakan sesuatu.
“Dha—”
“Tidakkah
kamu
sadar Nic, malaikat kecil itu harus membayar harga yang mahal atas
penyelamatannya? Bahwa ia harus kehilangan sesuatu agar tetap lengkap semua
yang ada pada dirimu? Bahwa kamu mencuri wajahnya untuk kamu
simpan pada memorimu sendiri?”
“Maksudmu, Dha?”
“Kami
adalah saudara kembar identik. Aku dan Rhima. Dan peristiwa lima belas
tahun yang lalu itu terjadi ketika aku berada di kota ini.” []