Han,
main yuk!
Kutunggu
di rumah ya J
Kupandangi sekali lagi layar handphone yang menampilkan
obrolanku dengan Hani, teman sekelasku, via whatsapp
hanya untuk mendapati pesan-pesanku masih centang satu sejak tadi malam. Pupus
sudah harapanku untuk lari dari permainan ini. Satu-satunya motor yang ada di
rumah ini telah digunakan Ibu pergi entah kemana. Ah, kalau dipikir-pikir Ibulah
yang menumbalkan aku di sini. Meskipun Ibu sempat menawariku untuk ikut
dengannya. Tawaran yang langsung kutolak dengan pertanyaan.
“Bukannya Ibu baru gajian tanggal satu kemarin?”
Ibu mendecak. “Sudah Ibu gunakan untuk membayar utang
yang lain.”
Gantian aku yang mendecak. Memangnya Ibu tidak pernah
memikirkan akibat meminjam uang di sana sini dengan gaji seuprit dan bunga
mencekik? Pusing tak bisa tidur dan diteror para penagih utang. Hampir setiap
hari, ada saja lelaki penagih utang yang main ke rumah. Bila tak memiliki uang,
pilihan kami hanya dua: kabur ke suatu tempat atau menyembunyikan diri di
rumah, mengunci rapat-rapat pintu dan jendela rumah seperti yang aku lakukan
saat ini.
Aku jadi teringat perkataan Budhe Darmi beberapa bulan
yang lalu ketika aku mengemis uang untuk membeli buku.
“Ibumu itu pengennya mewah-mewah, Rin. Budhe sudah hapal
sejak dulu. Orang kepepet kok beli cincin. Iya, to? Kemarin beli cincin, to?
Heran aku.”
Lamunanku buyar ketika kudengar suara mesin motor yang
berhenti di depan rumah disusul dengan ketukan di pintu. Baiklah, saatnya
bermain. Kupejamkan mata, bersiap tidur ketika tiba-tiba kudengar suara gagang pintu
ditarik diikuti dengan suara pintu terbuka.
Apakah aku lupa mengunci pintu depan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar