Jumat, 01 Juni 2018

Ibu Mengajakku Bermain Petak Umpet


Han, main yuk!
Kutunggu di rumah ya J
            Kupandangi sekali lagi layar handphone yang menampilkan obrolanku dengan Hani, teman sekelasku, via whatsapp hanya untuk mendapati pesan-pesanku masih centang satu sejak tadi malam. Pupus sudah harapanku untuk lari dari permainan ini. Satu-satunya motor yang ada di rumah ini telah digunakan Ibu pergi entah kemana. Ah, kalau dipikir-pikir Ibulah yang menumbalkan aku di sini. Meskipun Ibu sempat menawariku untuk ikut dengannya. Tawaran yang langsung kutolak dengan pertanyaan.
            “Bukannya Ibu baru gajian tanggal satu kemarin?”
            Ibu mendecak. “Sudah Ibu gunakan untuk membayar utang yang lain.”
            Gantian aku yang mendecak. Memangnya Ibu tidak pernah memikirkan akibat meminjam uang di sana sini dengan gaji seuprit dan bunga mencekik? Pusing tak bisa tidur dan diteror para penagih utang. Hampir setiap hari, ada saja lelaki penagih utang yang main ke rumah. Bila tak memiliki uang, pilihan kami hanya dua: kabur ke suatu tempat atau menyembunyikan diri di rumah, mengunci rapat-rapat pintu dan jendela rumah seperti yang aku lakukan saat ini.
            Aku jadi teringat perkataan Budhe Darmi beberapa bulan yang lalu ketika aku mengemis uang untuk membeli buku.
            “Ibumu itu pengennya mewah-mewah, Rin. Budhe sudah hapal sejak dulu. Orang kepepet kok beli cincin. Iya, to? Kemarin beli cincin, to? Heran aku.”
            Lamunanku buyar ketika kudengar suara mesin motor yang berhenti di depan rumah disusul dengan ketukan di pintu. Baiklah, saatnya bermain. Kupejamkan mata, bersiap tidur ketika tiba-tiba kudengar suara gagang pintu ditarik diikuti dengan suara pintu terbuka.
            Apakah aku lupa mengunci pintu depan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar